Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Misteri Rahasia Emas Batangan Soekarno

Mungkin belum banyak yang tahu kalau ada sebuah perjanjian maha penting yang dibuat Presiden I RI Ir Soekarno dan Presiden ke 35 AS John Fitzgerald Kennedy. Konon penembakan John F Kennedy pada November 1963 yang membuatnya tewas secara tragis lantaran menandatangani perjanjian tersebut.

Konon pula penggulingan Ir Soekarno dari kursi kepresidenan wajib dilakukan jaringan intelijen AS disponsori komplotan Jahudi (Zionis Internasional) yang tidak mau AS bangkrut dan hancur karena mesti mematuhi perjanjian tersebut juga tidak rela melihat RI justru menjadi kuat secara ekonomi di samping modal sumber daya alamnya yang semakin menunjang kekuatan ekonomi RI. selain itu ada beberapa tujuan lain yang harus dilaksanakan sesuai agenda Zionis Internasional. Berikut ini saya coba tulis hasil penelusuran pada tahun 1994 s/d 1998, berlanjut tahun 2006 s/d 2010, ditambah informasi dari beberapa sumber. Tapi mohon diingat, anggap saja tulisan ini hanya penambah wawasan belaka.

Perjanjian The Green Hilton Memorial Agreement Geneva dibuat dan ditandatangani pada 21 November 1963 di hotel Hilton Geneva oleh Presiden AS John F Kennedy (beberapa hari sebelum dia terbunuh) dan Presiden RI Ir Soekarno dengan saksi tokoh negara Swiss William Vouker. Perjanjian ini menyusul MoU diantara RI dan AS tiga tahun sebelumnya. Point penting perjanjian itu; Pemerintahan AS (selaku pihak I) mengakui 50 persen keberadaan emas murni batangan milik RI, yaitu sebanyak 57.150 ton dalam kemasan 17 paket emas dan pemerintah RI (selaku pihak II) menerima batangan emas itu dalam bentuk biaya sewa penggunaan kolateral dolar yang diperuntukkan pembangunan keuangan AS.

Dalam point penting lain pada dokumen perjanjian itu, tercantum klausul yang memuat perincian ; atas penggunaan kolateral tersebut pemerintah AS harus membayar fee 2,5 persen setiap tahunnya sebagai biaya sewa kepada Indonesia, mulai berlaku jatuh tempo sejak 21 November 1965 (dua tahun setelah perjanjian). Account khusus akan dibuat untuk menampung asset pencairan fee tersebut. Maksudnya, walau point dalam perjanjian tersebut tanpa mencantumkan klausul pengembalian harta, namun ada butir pengakuan status koloteral tersebut yang bersifat sewa (leasing). Biaya yang ditetapkan dalam dalam perjanjian itu sebesar 2,5 persen setiap tahun bagi siapa atau bagi negara mana saja yang menggunakannya.

Biaya pembayaran sewa kolateral yang 2,5 persen ini dibayarkan pada sebuah account khusus atas nama The Heritage Foundation (The HEF) yang pencairannya hanya boleh dilakukan oleh Bung Karno sendiri atas restu Sri Paus Vatikan. Sedang pelaksanaan operasionalnya dilakukan Pemerintahan Swiss melalui United Bank of Switzerland (UBS). Kesepakatan ini berlaku dalam dua tahun ke depan sejak ditandatanganinya perjanjian tersebut, yakni pada 21 November 1965.

Namun pihak-pihak yang menolak kebijakan John F. Kennedy menandatangani perjanjian itu, khususnya segelintir kelompok Zionis Internasional yang sangat berpengaruh di AS bertekat untuk menghabisi nyawa dan minimal karir politik kedua kepala negara penandatangan perjanjian itu sebelum masuk jatuh tempo pada 21 November 2965 dengan tujuan menguasai account The HEF tersebut yang berarti menguasai keuangan dunia perbankan.

Target sasaran pertama, ’menyelesaikan’ pihak I selaku pembayar, yakni membuat konspirasi super canggih dengan ending menembak mati Presiden AS JF Kennedy itu dan berhasil. Sudah mati satu orang penandatangan perjanjian, masih seorang lagi sebagai target ke II, yakni Ir Soekarno. Kaki tangan kelompok Zionis Internasional yang sejak awal menentang kesepakatan perjanjian itu meloby dan menghasut CIA dan Deplu AS untuk menginfiltrasi TNI-AD yang akhirnya berpuncak pada peristiwa G30S disusul ’penahanan’ Soekarno’ oleh rezim Soeharto. Apesnya lagi, Soekarno tidak pernah sempat memberikan mandat pencairan fee penggunaan kolateral AS itu kepada siapa pun juga !! Hingga beliau almarhum beneran empat tahun kemudian dalam status tahanan politik.

Sedangkan kalangan dekat Bung Karno maupun pengikutnya dipenjarakan tanpa pengadilan dengan tudingan terlibat G30S oleh rezim Soeharto. Mereka dipaksa untuk mengungkapkan proses perjanian itu dan bagaimana cara mendapatkan harta nenek moyang di luar negeri itu. Namun usaha keji ini tidak pernah berhasil.
Hal Ikhwal Perjanjian

Sepenggal kalimat penting dalam perjanjian tersebut => ”Considering this statement, which was written andsigned in Novemver, 21th 1963 while the new certificate was valid in 1965 all the ownership, then the following total volumes were justobtained.” Perjanjian hitam di atas putih itu berkepala surat lambing Garuda bertinta emas di bagian atasnya dan berstempel ’The President of The United State of America’ dan ’Switzerland of Suisse’.

Berbagai otoritas moneter maupun kaum Monetarist, menilai perjanjian itu sebagai fondasi kolateral ekonomi perbankan dunia hingga kini. Ada pandangan khusus para ekonom, AS dapat menjadi negara kaya karena dijamin hartanya ’rakyat Indonesia’, yakni 57.150 ton emas murni milik para raja di Nusantara ini. Pandangan ini melahirkan opini kalau negara AS memang berutang banyak pada Indonesia, karena harta itu bukan punya pemerintah AS dan bukan punya negara Indonesia, melainkan harta raja-rajanya bangsa Indonesia.

Bagi bangsa AS sendiri, perjanjian The Green Hilton Agreement merupakan perjanjian paling tolol yang dilakukan pemerintah AS. Karena dalam perjanjian itu AS mengakui asset emas bangsa Indonesia. Sejarah ini berawal ketika 350 tahun Belanda menguasai Jawa dan sebagian besar Indonesia. Ketika itu para raja dan kalangan bangsawan, khususnya yang pro atau ’tunduk’ kepada Belanda lebih suka menyimpan harta kekayaannya dalam bentuk batangan emas di bank sentral milik kerajaan Belanda di Hindia Belanda, The Javache Bank (cikal bakal Bank Indonesia). Namun secara diam-diam para bankir The Javasche Bank (atas instruksi pemerintahnya) memboyong seluruh batangan emas milik para nasabahnya (para raja-raja dan bangsawan Nusantara) ke negerinya di Netherlands sana dengan dalih keamanannya akan lebih terjaga kalau disimpan di pusat kerajaan Belanda saat para nasabah mempertanyakan hal itu setelah belakangan hari ketahuan.

Waktu terus berjalan, lalu meletuslah Perang Dunia II di front Eropa, dimana kala itu wilayah kerajaan Belanda dicaplok pasukan Nazi Jerman. Militer Hitler dan pasukan SS Nazi-nya memboyong seluruh harta kekayaan Belanda ke Jerman. Sialnya, semua harta simpanan para raja di Nusantara yang tersimpan di bank sentral Belanda ikut digondol ke Jerman.

Perang Dunia II front Eropa berakhir dengan kekalahan Jerman di tangan pasukan Sekutu yang dipimpin AS. Oleh pasukan AS segenap harta jarahan SS Nazi pimpinan Adolf Hitler diangkut semua ke daratan AS, tanpa terkecuali harta milik raja-raja dan bangsawan di Nusantara yang sebelumnya disimpan pada bank sentral Belanda. Maka dengan modal harta tersebut, Amerika kembali membangun The Federal Reserve Bank (FED) yang hampir bangkrut karena dampak Perang Dunia II, oleh ’pemerintahnya’ The FED ditargetkan menjadi ujung tombak sistem kapitalisme AS dalam menguasai ekonomi dunia.

Belakangan kabar ’penjarahan’ emas batangan oleh pasukan AS untuk modal membangun kembali ekonomi AS yang sempat terpuruk pada Perang Dunia II itu didengar pula oleh Ir Soekarno selaku Presiden I RI yang langsung meresponnya lewat jalur rahasia diplomatic untuk memperoleh kembali harta karun itu dengan mengutus Dr Subandrio, Chaerul saleh dan Yusuf Muda Dalam walaupun peluang mendapatkan kembali hak sebagai pemilik harta tersebut sangat kecil. Pihak AS dan beberapa negara Sekutu saat itu selalu berdalih kalau Perang Dunia masuk dalam kategori Force Majeur yang artinya tidak ada kewajiban pengembalian harta tersebut oleh pihak pemenang perang.

Namun dengan kekuatan diplomasi Bung Karno akhirnya berhasil meyakinkan para petinggi AS dan Eropa kalau asset harta kekayaan yang diakuisisi Sekutu berasal dari Indonesia dan milik Rakyat Indonesia. Bung Karno menyodorkan fakta-fakta yang memastikan para ahli waris dari nasabah The Javache Bank selaku pemilik harta tersebut masih hidup !!

Nah, salah satu klausul dalam perjanjian The Green Hilton Agreement tersebut adalah membagi separoh separoh (50% & 50%) antara RI dan AS-Sekutu dengan ’bonus belakangan’ satelit Palapa dibagi gratis oleh AS kepada RI. Artinya, 50 persen (52.150 ton emas murni) dijadikan kolateral untuk membangun ekonomi AS dan beberapa negara eropa yang baru luluh lantak dihajar Nazi Jerman, sedang 50 persen lagi dijadikan sebagai kolateral yang membolehkan bagi siapapun dan negara manapun untuk menggunakan harta tersebut dengan sistem sewa (leasing) selama 41 tahun dengan biaya sewa per tahun sebesar 2,5 persen yang harus dibayarkan kepada RI melalui Ir.Soekarno. Kenapa hanya 2,5 persen ? Karena Bun Karno ingin menerapkan aturan zakat dalam Islam.
Pembayaran biaya sewa yang 2,5 persen itu harus dibayarkan pada sebuah account khusus a/n The Heritage Foundation (The HEF) dengan instrumentnya adalah lembaga-lembaga otoritas keuangan dunia (IMF, World Bank, The FED dan The Bank International of Sattlement/BIS). Kalau dihitung sejak 21 November 1965, maka jatuh tempo pembayaran biaya sewa yang harus dibayarkan kepada RI pada 21 November 2006. Berapa besarnya ? 102,5 persen dari nilai pokok yang banyaknya 57.150 ton emas murni + 1.428,75 ton emas murni = 58.578,75 ton emas murni yang harus dibayarkan para pengguna dana kolateral milik bangsa Indonesia ini.

Padahal, terhitung pada 21 November 2010, dana yang tertampung dalam The Heritage Foundation (The HEF) sudah tidak terhitung nilainya. Jika biaya sewa 2.5 per tahun ditetapkan dari total jumlah batangan emasnya 57.150 ton, maka selama 45 tahun X 2,5 persen = 112,5 persen atau lebih dari nilai pokok yang 57.150 ton emas itu, yaitu 64.293,75 ton emas murni yang harus dibayarkan pemerintah AS kepada RI. Jika harga 1 troy once emas (31,105 gram emas ) saat ini sekitar 1.500 dolar AS, berapa nilai sewa kolateral emas sebanyak itu ?? Hitung sendiri aja !!

Mengenai keberadaan account The HEF, tidak ada lembaga otoritas keuangan dunia manapun yang dapat mengakses rekening khusus ini, termasuk lembaga pajak. Karena keberadaannya yang sangat rahasia. Makanya, selain negara-negara di Eropa maupun AS yang memanfaatkan rekening The HEF ini, banyak taipan kelas dunia maupun ’penjahat ekonomi’ kelas paus dan hiu yang menitipkan kekayaannya pada rekening khusus ini agar terhindar dari pajak.

Tercatat orang-orang seperti George Soros, Bill Gate, Donald Trump, Adnan Kasogi, Raja Yordania, Putra Mahkota Saudi Arabia, bangsawan Turko dan Maroko adalah termasuk orang-orang yang menitipkan kekayaannya pada rekening khusus tersebut.

George Soros dengan dibantu ole CIA berusaha untuk membobol account khusus tersebut. Bahkan, masih menurut sumber yang bisa dipercaya, pada akhir 2008 lalu, George Soros pernah mensponsori sepasukan kecil yang terdiri dari CIA dan MOSSAD mengadakan investigasi rahasia dengan berkeliling di pulau Jawa demi untuk mendapatkan user account dan PIN The HEF tersebut.

Selain itu, George Soros dibantu dinas rahasia CIA pernah berusaha membobol account khusus tersebut, namun gagal. Bahkan akhir 2008 lalu, George Soros pernah mensponsori sepasukan kecil agen CIA dan MOSSAD (agen rahasia Israel) mengadakan investigasi rahasia dengan berkeliling di pulau Jawa demi untuk mendapatkan user account dan PIN The HEF tersebut termasuk untuk mencari tahu siapa yang diberi mandat Ir Soekarno terhadap account khusus itu. Padahal Ir Soekarno atau Bung Karno tidak pernah memberikan mandat kepada siapa pun. artinya pemilik harta rakyat Indonesia itu tunggal, yakni Bung Karno sendiri. Sampai saat ini !!
Penjahat Perbankan Internasional Manfaatkan Saat Ada Bencana Alam Besar

Sialnya, CUSIP Number (nomor register World Bank) atas kolateral ini bocor. Nah, CUSIP inilah yang kemudian dimanfaatkan kalangan bankir papan atas dunia yang merupakan penjahat kerah putih (white collar crime) untuk menerbitkan surat-surat berharga atas nama orang-orang Indonesia. Pokoknya siapa pun dia, asal orang Indonesia berpassport Indonesia dapat dibuatkan surat berharga dari UBS, HSBC dan bank besar dunia lainnya. Biasanya terdiri dari 12 lembar, diantaranya ada yang berbentuk Proof of Fund, SBLC, Bank Guaranted, dan lainnya. Nilainya pun fantastis, rata-rata di atas 500 juta dolar AS hingga 100 miliyar dolar AS.

Ketika dokumen tersebut dicek, maka kebiasaan kalangan perbankan akan mengecek CUSIP Number. Jika memang berbunyi, maka dokumen tersebut dapat menjalani proses lebih lanjut. Biasanya kalangan perbankan akan memberikan bank officer khusus bagi surat berharga berformat Window Time untuk sekedar berbicara sesama bank officer jika dokumen tersebut akan ditransaksikan. Sesuai prosedur perbankan, dokumen jenis ini hanya bisa dijaminkan atau dibuatkan rooling program atau private placement yang bertempo waktu transaksi hingga 10 bulan dengan High Yield antara 100 persen s/d 600 persen per tahun.

Nah, uang sebesar itu hanya bisa dicairkan untuk proyek kemanusiaan. Makanya, ketika terjadi musibah Tsunami di Aceh dan gempa di DIY, maka dokumen jenis ini beterbangan sejagat raya bank. Brengseknya, setiap orang Indonesia yang namanya tercantum dalam dokumen itu, masih saja hidup miskin blangsak sampai sekarang. Karena memang hanya permainan bandit bankir kelas hiu yang mampu mengakali cara untuk mencairkan aset yang terdapat dalam rekening khusus itu.

Di sisi lain, mereka para bankir curang juga berhasil membentuk opini, dimana sebutan ’orang stress’, sarap atau yang agak halus ’terobsesi’ kerap dilontarkan apabila ada seseorang yang mengaku punya harta banyak, miliyaran dollar AS yang berasal dari Dana Revolusi atau Harta Amanah Bangsa Indonesia. Opini yang terbentuk ini bagi pisau bermata dua, satu sisi menguntungkan bagi keberadaan harta yang ada pada account khusus tersebut tidak terotak-atik, namun sisi lainnya para bankir bandit dapat memanfaatkannya demi keuntungan pribadi dan komplotannya ketika ada bencana alam besar di dunia, seperti bencana Tsunami di Jepang baru-baru ini. Tapi yang paling berbahaya, tidak ada pembelaan rakyat, negara dan pemerintah Indonesia ketika harta ini benar-benar ada dan mesti diperjuangkan bagi kemakmuran rakyat Indonesia.

Kaitannya dengan Satria Piningit, Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu, Ratu Adil

Penulis punya pengertian, ketika Satrio Piningit sudah melaksanakan fungsinya sebagai pemimpin maka beliau menjadi Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu (SPSW) karena kecintaannya yang teramat sangat kepada TUHAN ALLAH. Takut akan TUHAN dengan mencintai-NYA dengan segenap hatinya menjadi awal setiap langkah beliau dalam melaksanakan tugas membawa rakyat Nusantara maupun umat manusia menuju kesejahteraan dan kemakmuran yang hakiki. Ketika semua umat manusia pada umumnya dan rakyat Nusantara pada khususnya sudah mendapatkan kesejahteraan dan kemakmuran yang hakiki itu, maka beliau mendapat sebutan sang Ratu Adil.

Kami juga berkeyakinan, sang SPSW yang mampu mendapatkan kembali harta abadi rakyat Nusantara, bagaimana pun prosesnya. Karena kepemimpinannya memang mendapat bimbingan langsung TUHAN Pemilik Semesta Alam. Semua harta itu akan diserahkan kepada negara yang dipimpinnya untuk dikelola demi kesejahteraan dan kemakmuran segenap pemilik sejatinya, yakni bangsa Nusantara ini !! 
Sumber : http://forum.viva.co.id/sejarah/868964-misteri-rahasia-emas-batangan-soekarno.html

read more

Kontroversi Foto Joe Rosenthal


”Uncommon Valor was a Common Virtue.” (Keberanian luar biasa adalah sifat biasa). Kalimat terkenal ini diucapkan oleh Laksamana Chester Nimitz, komandan Armada Pasifik (CINCPAC) yang ditugasi untuk menduduki Pulau Iwo Jima, Jepang, dalam Perang Dunia II. Kata-kata penghormatan untuk para anggota Marinir itu terukir di bagian dasar Tugu Peringatan bagi korps Marinir Amerika. Tugu ini didirikan di Pemakaman Nasional Arlington, Washington DC, Amerika, pada 1954.
 
Yang menarik, tugu ini terinspirasi oleh foto terkenal Joe Rosenthal. Yakni, upaya pengibaran bendera Amerika dalam pertempuran Iwo Jima pada Februari 1945.
 
Pertempuran menjelang akhir Perang Dunia II tersebut dicatat sebagai salah satu yang paling brutal. Di sisi lain, Iwo Jima menjadi ajang pembuktian ketangguhan Letjen Tadamichi Kuribayashi. Ia ditunjuk langsung oleh Perdana Menteri Jepang Jenderal Tojo sebagai komandan pasukan di Iwo Jima.
 
Sejarah mencatat, Kuribayashi melakukan hal yang tidak mampu dilakukan oleh para komandan Jepang lainnya di Pasifik. Yakni, menimbulkan lebih banyak korban di pihak Marinir Amerika.
 
Sejak mendarat di Iwo Jima, perwira tinggi yang pernah menjadi wakil atase militer Jepang di Amerika meninggalkan sistem pertahanan yang dianggapnya kuno. Ia juga memulangkan semua penduduk sipil ke daratan Jepang. Sebab, keberadaan mereka dinilai tiada berguna. Mereka juga bakal menghabiskan perbekalan makanan dan air yang terbatas.
 
Dengan kedatangan lebih banyak pasukan dan buruh Korea, Kuribayashi memulai pembangunan sistem pertahanan bawah tanah secara besar-besaran. Sebelumnya, ia sudah menilai bahwa penunjukannya sebagai tantangan dan hukuman mati. Karena itu, ia menulis sebuah surat kepada istrinya setelah menjejakkan kaki di Iwo Jima. ”Jangan tunggu kepulanganku,” tulis sang jenderal yang punya darah samurai tersebut.
 
 Sebagai orang Jepang, ia tergolong jangkung. Tingginya 175 sentimeter. Radio Tokyo menggambarkannya sebagai “Sosok yang memiliki perut besar tradisional seorang samurai dan hati seekor harimau”.
 
Kuribayashi sendiri telah mengomando anak buahnya di Iwo Jima. Yakni, satu prajurit wajib membunuh 10 musuh sebelum mati. Artinya, mereka siap bertempur sampai mati.
 
Panjang Pulau Iwo Jima sekitar 4,5 mil (7,2 km). Total luas tanah seluruhnya sekitar 19,4 kilometer persegi. Di ujung selatan berdiri Gunung Suribachi, gunung berapi tidak aktif, setinggi 550 kaki (168 meter). Dari atasnya, sebagian pulau bisa terlihat.
 
Pada 19 Februari 1945, serangan oleh pasukan Amerika dimulai. Iwo Jima dibombardir dari laut dan udara. Pasukan Marinir juga siap mendarat. Sekaligus menjemput maut.
 
Iwo Jima segera menjadi ladang pembantaian. Korban yang jatuh di kedua pihak begitu banyak. Setiap jengkal tanah di Iwo Jima direbut oleh pasukan Amerika dengan nyawa. Keberanian para prajurit Marinir dikenang.
 
Banyak kejadian di pertempuran Iwo Jima yang diabadikan dalam potret. Sebagian besar diambil oleh Joe Rosenthal, jurnalis foto Associated Press, yang mengikuti langsung invasi ke Iwo Jima.
 
Perang Dunia II menghasilkan banyak foto yang luar biasa. Misalnya, foto Cecil Beaton yang menunjukkan kubah Katedral St. Paulus yang dikelilingi cincin api ketika serangan Blitz di London. Foto lainnya adalah awan jamur di atas Kota Hiroshima, foto Jenderal Douglas McArthur saat berjalan menuju pantai di Filipina, dan lubang mengerikan penuh mayat-mayat kurus di kamp konsentrasi Belsen.
 
Namun, tidak ada yang menyamai ketenaran hasil foto Joe Rosenthal. Yakni, pengibaran bendera Amerika oleh enam prajurit Marinir di puncak Gunung Suribachi, Iwo Jima. Ketika diperlihatkan kali pertama di Amerika, foto ini dalam sekejap langsung jadi sensasi. Foto tersebut juga dijadikan prangko senilai 3 sen yang mencapai penjualan terbesar dalam sejarah.
 
Lukisan yang menggambar ulang foto itu dijadikan untuk kampanye penjualan obligasi perang ke-7 yang menghasilkan USD 220 juta. Foto heroik tersebut juga muncul dalam 3,5 juta poster dan 175 ribu kartu mobil, digambarkan dalam film-film, direka ulang oleh pesenam, serta ditampilkan dalam kereta hias yang memenangi juara pertama dalam Parade Rose Bowl. 
 
Enam prajurit dalam potret itu adalah Pratu Ira Hayes, Pratu Franklin Sousley, Sersan Michael Strank, Kelasi Dua Perawat John H. Bradley, Pratu Renne A. Gagnon, dan Kopral Harlon A. Block. Tiga di antaranya terbunuh di Iwo Jima. Yakni, Sousley, Strank, dan Block.
 
Namun, foto Joe Rosenthal ini sempat jadi kontroversi. Sebenarnya, ada beberapa foto yang dihasilkannya. Selain pengibaran bendera yang masyhur itu, ia membidik potret para Marinir yang melambaikan tangan dan bersorak.
 
Ketika kembali ke kapal perang USS Eldorado, Joe Rosenthal memberi judul fotonya hari itu dan menitipkannya untuk dibawa pesawat pos harian ke Guam. Foto ini langsung jadi sensasi di Amerika.
 
Ironisnya, Rosenthal tidak melihat sampai 9 hari kemudian ia tiba di Guam dan diberi ucapan selamat oleh sekelompok wartawan.
 
”Foto yang luar biasa,” kata mereka.
”Apakah kamu mengaturnya?” ucap salah satu di antaranya.
”Tentu,” jawab Rosenthal karena mengira bahwa yang mereka maksud adalah potret pasukan Marinir yang melambai dan bersorak setelah pengibaran bendera.
 
”Mengatur yang ini?” tanya seorang jurnalis sambil menunjukkan gambar enam orang Marinir sedang berusaha mengibarkan bendera Amerika. ”Wah, memang bagus. Tapi, saya tidak mengatur yang satu ini,” jawab Rosenthal.
 
Di sanalah kesalahpahaman soal foto itu dimulai. Seseorang mendengar Rosenthal berkata telah mengatur foto tersebut. Orang itu lalu menulis bahwa foto itu palsu dan Rosenthal mengaturnya.
 
Di sisi lain, kehidupan Rosenthal berubah setelah potret di Iwo Jima tadi. Ia dipanggil pulang oleh Associated Press dan menjadi pesohor. Gaiinya dinaikkan. Ia pun menerima hadiah Pulitzer serta bertemu Presiden Harry S. Truman. Rosenthal juga laris diundang sebagai narasumber berbagai acara.
 
Tetapi, tuduhan atas foto yang diatur telah menjadi topik pembahasan menyakitkan sejak perang berakhir karena kesalahpahaman yang terus diungkit bertahun-tahun. Namun, mitos “diatur” itu mudah diabaikan dengan melihat film lima detik oleh Bill Genaust yang diambil pada waktu yang sama.
 
Catatan Must Prast
Klub Baca Buku IGI
 
 
Sidoarjo, 26 April 2013
 
Referensi
Iwo Jima 1945 (Derrict Wright)


read more

Ibu Tien Tidak Ditembak

Pada Jumat pagi, 26 April 1996, Pak Harto menangkap firasat buruk. Saat itu ia mancing di perairan sebelah barat Anyer, Jawa Barat. The Smiling General (julukan Soeharto) hanya berhasil menangkap dua ekor ikan. ”Ini kok nggak seperti biasanya ya?” ucapnya kepada ajudannya.
Setelah itu cuaca mendadak tidak bersahabat. Awan bergulung-gulung dan langit mulai gelap. Badai pun menerpa. Rombongan presiden lantas pindah ke kapal TNI-AL yang lebih besar. Keberadaan kapal tempur TNI-AL itu memang termasuk prosedur pengamanan presiden.
Sutanto, ajudan presiden, mengaku mulai menangkap firasat tidak mengenakkan tersebut (2012: 521). Setelah badai reda, mereka kembali ke Jakarta.
Saat Soeharto memancing di Selat Sunda itu, Ibu Tien sedang mengunjungi sentra pembibitan di taman buah Mekarsari. First Lady tersebut sebenarnya tak boleh berjalan terlalu jauh, namun ia melanggarnya. Ia pun kecapekan. Padahal, sebelumnya sang ibu negara memiliki gangguan jantung.
Alhasil, Minggu sebelum subuh pukul 04.00, Tien sulit bernapas. Melihat dokter pribadi kepresidenan  Hari Sabardi memberikan bantuan pernapasan dengan alat oksigen, Sutanto berinisiatif membawa ibu negara itu ke mobil dan membawanya ke RSPAD Gatot Subroto. Malang tak bisa ditolak, pukul 05.10 Tien mengembuskan napas terakhir.
Pascareformasi, berembus kabar bahwa Tien meninggal karena tertembus peluru yang dipicu perkelahian Bambang Trihatmojo dan Tommy Soeharto. Mereka dirumorkan berantem karena berebut proyek mobil nasional. Salah satu peluru disebutkan mengenai ibunda mereka, Tien.
Mengenai hal ini, Sutanto yang kelak menjadi Kapolri menampiknya. ”Itu rumor dan cerita yang sangat kejam. Tidak benar sama sekali. Saya saksi hidup yang menyaksikan Ibu Tien terkena serangan jantung mendadak, membawanya ke mobil, dan terus menunggu di luar ruangan saat tim dokter RSPAD melakukan upaya medis,” tegas Jenderal Pol (pur) Sutanto (2011 : 523).  
Sutanto dikenal sebagai perwira polisi yang kalem dan dekat dengan para anak buahnya. Ia lulusan terbaik Akabri Kepolisian (sekarang Akademi Kepolisian/Akpol) 1973. Ia dikenal sebagai perwira yang jujur dan tegas sehingga ditunjuk sebagai Kapolri (2005-2008) dan kepala Badan Intelijen Negara (2009). Banyak kalangan perwira militer dan kepolisian yang mengakui bahwa Sutanto dapat dipercaya. Tentunya, kesaksian Sutanto tentang misteri di balik wafatnya Ibu Tien sangat penting untuk menjawab rumor yang menyebut bahwa sang ibu negara meninggal setelah tertembus peluru yang berasal dari senjata salah satu putranya.

Catatan Must Prast
editor Jawa Pos
Sidoarjo, 10 Januari 2013

read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...